Kotanopan “Kota Pejuang” Dikepung Bau Busuk: Pejabat Saling Lempar Tanggung Jawab, Warga Menjerit

​KOTANOPAN –busertipikor.com- Slogan gagah Kotanopan sebagai “Kota Pejuang” kini terasa ironis dan kontras dengan pemandangan kumuh di jantung wilayahnya. Jalan Keliling Pasar Kotanopan, Kelurahan Pasar Kotanopan, Kabupaten Mandailing Natal, kini berubah menjadi “lautan sampah” yang mengeluarkan aroma busuk menyengat, memicu keresahan massal bagi warga dan pengguna jalan.

​Krisis Ekologis dan Estetika Warisan Sejarah Terkubur Sampah
​Bukan sekadar masalah estetika, tumpukan sampah ini telah mengganggu aktivitas ekonomi dan mengancam kesehatan masyarakat. Ironisnya, lokasi ini memiliki nilai sejarah tinggi sejak zaman Belanda, namun kini dibiarkan bobrok.

​Laporan lapangan menyebutkan bahwa pembiaran ini bukan terjadi kemarin sore. Persoalan sampah di titik tersebut disinyalir telah mengendap tanpa solusi konkret sejak Oktober 2025, bahkan beberapa warga menyebut pengabaian sudah berlangsung secara berangsur sejak tahun 2023.

​Sekretaris LSM Genta Madina, Chandra Siregar, angkat bicara dengan nada tinggi saat ditemui di Kantor Camat Kotanopan, Kamis (12/03). Ia mendesak jajaran pimpinan daerah untuk berhenti menutup mata.

​”Warga mendesak Lurah, Kepala Pasar, Camat, hingga Wakil Bupati Mandailing Natal untuk bertindak cepat! Jangan hanya mementingkan pencitraan di jalur utama, sementara kondisi riil di pasar yang menyentuh hajat hidup orang banyak diabaikan,” tegas Chandra.

​Chandra juga menyoroti kurangnya kekompakan antarinstansi. Menurutnya, pembersihan rutin mingguan seharusnya menjadi prosedur standar agar masyarakat tidak perlu sampai melakukan protes keras.

​Pedagang Menjerit: “Iuran Lancar, Fasilitas Bobrok”
​Kekecewaan mendalam datang dari pedagang, salah satunya bermarga Lubis. Ia merasa dikhianati oleh sistem pengelolaan pasar yang tidak transparan.

Pedagang rutin membayar iuran kebersihan, namun sampah dibiarkan menumpuk berbulan-bulan.

Tidak ada bak sampah (box) yang memadai, sehingga sampah meluber ke badan jalan.

Aroma busuk membuat pembeli enggan melintas, merugikan sirkulasi dagang menjelang Lebaran.

​”Jangan karena letaknya agak tertutup, instansi terkait jadi buta mata. Kami bayar iuran, tapi disuguhi bau busuk!” ujar Lubis dengan nada kecewa.

​Saat dikonfirmasi via selular pada Kamis (12/03), Kepala Pasar Kotanopan, Arfan, justru memberikan pernyataan yang mengesankan adanya lempar tanggung jawab antarinstansi.

​Ia berkilah bahwa urusan pengangkutan sampah kini bukan lagi ranah Dinas Perdagangan, melainkan telah dialihkan ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH). “Seharusnya mereka yang mengangkut. Sampah itu pun bukan hanya dari pedagang, tapi sudah bercampur dengan sampah warga,” dalih Arfan.

​Hingga berita ini diturunkan, tumpukan sampah setinggi gunung itu masih menghiasi Jalan Keliling Kotanopan. Di tengah momen menyambut Hari Raya Idul Fitri, masyarakat menanti apakah para pemangku kebijakan memiliki nurani untuk membersihkan tanah kelahiran mereka sendiri, atau tetap membiarkan Kotanopan tenggelam dalam bau busuk abadi.( ISR)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *