Tangis Haru di Depan Ka’bah – Pawang Lubis Meneteskan Air Mata Saat Berada di Tanah Suci, Mengaku Berkat Doa Tulus Para Anak Yatim

Wwwbusertipikor.com

Makkah – Suasana haru menyelimuti pelataran Masjidil Haram. Seorang jamaah asal Indonesia, Pawang Lubis, tak kuasa menahan linangan air mata saat untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di tanah suci Makkah Al-Mukarramah. Momen penuh makna itu terekam dalam sebuah foto selfie di depan Ka’bah pada malam hari, dengan wajah yang terlihat begitu khusyuk dan haru.jumat 16/10/2026

Foto tersebut kini menjadi saksi bisu perjalanan spiritual yang diakuinya bukan karena kekuatan materi, melainkan berkat doa-doa tulus dari anak-anak yatim yang selama ini ia santuni.

Pawang Lubis, seorang pria paruh baya asal Sumatera Utara. Dalam foto yang diterima redaksi, ia tampak mengenakan kain ihram putih lengkap dengan tanda pengenal jamaah haji/umrah “HALLUTAB HANAMA” yang melingkar di leher. Ia bukanlah seorang pejabat atau pengusaha besar, melainkan sosok sederhana yang dikenal di lingkungannya sebagai penyayang anak yatim.

Pawang Lubis meneteskan air mata haru dan syukur saat melaksanakan ibadah umrah di depan Ka’bah. Ia mengaku tidak pernah menyangka bisa sampai ke Baitullah. Tangisnya pecah bukan karena lelahnya perjalanan, melainkan karena rasa syukur yang mendalam setelah penantian panjang.

Peristiwa haru itu terjadi di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi. Tepat di pelataran yang menghadap langsung ke Ka’bah, kiblat umat Islam sedunia. Dalam foto terlihat di belakangnya ribuan jamaah lain yang juga tengah beribadah, dengan cahaya lampu Masjidil Haram yang terang benderang di malam hari.

Momen tersebut terjadi pada saat ia melaksanakan ibadah umrah. Berdasarkan foto yang diambil pada malam hari waktu setempat, suasana Masjidil Haram tampak padat oleh jamaah yang sedang berdoa dan bertawaf. Foto ini menjadi penanda terkabulnya doa yang ia panjatkan selama bertahun-tahun.

Inilah inti dari kisahnya. Pawang Lubis mengatakan, keberangkatannya ke tanah suci ini adalah berkat doa dari anak-anak yatim.

“Selama ini saya hanya bisa membantu sedikit untuk anak-anak yatim di kampung. Saya tidak pernah meminta balasan. Tapi setiap selesai mengaji, mereka selalu mendoakan saya, ‘Semoga Bapak Pawang bisa sampai ke Makkah’. Saya pikir itu hanya doa anak-anak. Ternyata Allah dengar melalui lisan mereka yang suci,” ujarnya dengan suara terbata-bata saat dihubungi.

Ia percaya, doa orang yang teraniaya dan doa anak yatim adalah doa yang paling mustajab dan tanpa hijab di hadapan Allah SWT.

Pawang Lubis menceritakan, jalan menuju tanah suci tidaklah mudah. Secara ekonomi, ia mengaku pas-pasan. Niat untuk berangkat umrah sudah ada sejak lama, namun terkendala biaya.

Keajaiban datang silih berganti. Mulai dari rezeki yang tidak disangka-sangka, kemudahan urusan paspor dan visa, hingga ada hamba Allah yang membantu melunasi kekurangan biayanya. Ia yakin semua itu adalah jalan yang dibukakan Allah lantaran keikhlasan para anak yatim yang ia bantu.

“Di depan Ka’bah ini saya tidak bisa berkata apa-apa. Yang saya ingat hanya wajah-wajah mereka. Saya menangis karena malu, saya yang seharusnya mendoakan mereka, malah mereka yang mengantarkan saya sampai ke sini. Ini utang budi saya,” lanjutnya.

Kini, di tanah suci, doa pertama yang ia panjatkan bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk kesehatan, kebahagiaan, dan masa depan para anak yatim yang telah menjadi perantara terkabulnya mimpinya.

Kisah Pawang Lubis menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa memuliakan anak yatim tidak akan pernah membuat miskin. Justru dari tangan-tangan kecil merekalah, doa melesat ke langit dan membuka pintu-pintu rezeki yang tidak pernah kita duga, hingga mengantarkan langkah kaki ke tempat paling mulia di muka bumi ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *